Jelajahi Dunia Tanaman
Iklan
Tanaman Asia

7 Hal soal Talas Asia dari Varietas, Hama, sampai Olahan

Talas Asia bukan cuma umbi rebus. Ada varietas dengan tekstur dan aroma berbeda, hama yang perlu diwaspadai, sampai olahan tradisional dari Jawa hingga Papua. Kenali dulu sebelum menanam atau mengolahnya di rumah.

7 Hal soal Talas Asia dari Varietas, Hama, sampai Olahan

Talas jarang disebut saat orang membicarakan pangan lokal. Padahal di banyak tempat di Asia, umbi ini sudah lama jadi makanan pokok, bukan sekadar camilan sore. Dari Asia Tenggara sampai kepulauan Pasifik, talas tumbuh di pekarangan, tepi selokan, hingga lereng yang lembap. Di Indonesia sendiri namanya berubah tiap daerah, ada yang menyebutnya kimpul, lompong, atau keladi, meski secara botani ketiganya tidak selalu sama.

Yang menarik, talas bukan tanaman manja. Ia bisa tumbuh di lahan sisa, tahan naungan, dan hampir seluruh bagiannya bisa dimakan: umbi, batang muda, sampai daun. Tapi justru karena dianggap mudah, banyak orang menanam sembarangan lalu bingung ketika umbinya kecil atau daunnya rusak.

Lima Varietas Talas Asia yang Paling Sering Ditemui

Varietas talas berbeda-beda di tiap daerah, tapi ada beberapa jenis yang paling sering muncul di pasar dan pekarangan.

Iklan
  • Talas Bogor. Umbinya besar, dagingnya putih, teksturnya pulen saat dikukus. Batang dan daunnya juga besar, sering diambil sebagai sayur.
  • Talas sutera atau talas ketan. Teksturnya legit dan agak lengket, aromanya kuat. Jenis inilah yang biasanya dipilih untuk kue, bolu, dan getuk.
  • Talas ungu. Warna dagingnya ungu keabu-abuan dengan aroma khas. Banyak dipakai sebagai isian roti, minuman, dan es krim.
  • Talas beneng. Varietas lokal dari Banten dengan umbi besar dan memanjang. Sering diolah jadi tepung dan keripik karena seratnya kuat.
  • Talas satoimo. Jenis kecil dari Jepang yang dimakan bersama kulitnya. Teksturnya creamy dan tidak seberat talas berukuran besar.

Kalau tujuanmu memasak untuk keluarga, talas Bogor atau talas ketan paling aman. Untuk dijadikan tepung, pilih jenis berumbi besar seperti beneng.

Hama dan Penyakit yang Paling Sering Menyerang Talas

Masalah talas biasanya datang dari dua arah: hama yang memakan langsung, dan penyakit yang muncul karena kebun terlalu lembap.

Di bagian daun, kutu daun sering muncul dan menghisap cairan tanaman. Serangan ringan mungkin tidak terlihat mengganggu, tapi kutu ini bisa jadi perantara masuknya virus yang membuat daun belang dan pertumbuhan terhambat. Ulat dan belalang juga doyan daun muda, terutama pada tanaman yang baru tumbuh.

Di bagian umbi, penggerek jadi momok. Ada kumbang dan larva yang masuk lewat celah tanah lalu melubangi umbi dari dalam. Kalau umbi sudah berlubang, biasanya tidak layak dipanen. Tanda paling jelas adalah daun yang menguning dan rebah tanpa sebab, padahal tanahnya cukup air.

Penyakit yang perlu diwaspadai adalah busuk daun dan busuk umbi. Keduanya menyerang lebih cepat saat drainase buruk. Daun muncul bercak kecokelatan yang melebar lalu membusuk, sementara umbi yang terinfeksi jadi lunak dan berbau. Untuk talas yang ditanam di pekarangan, masalah terbesar sering kali justru tikus dan siput yang memakan umbi muda.

Pencegahan sederhana yang cukup ampuh: atur jarak tanam agar sirkulasi udara lancar, pastikan air tidak menggenang, buang tanaman yang sudah sakit, dan jangan menanam talas di petak yang sama terus-menerus. Bibit sehat dari anakan pilihan jauh lebih menyelamatkan daripada menyemprot sana-sini setelah tanaman terlanjur rusak.

Olahan Tradisional dari Jawa sampai Papua

Cara orang mengolah talas sangat bergantung pada kebiasaan setempat, dan di situlah letak menariknya.

Di Jawa, talas kukus yang disajikan dengan kelapa parut dan sedikit gula jadi teman minum teh. Batang mudanya dimasak santan sebagai lompong, kadang diberi cabai supaya segar. Daun talas dipakai membungkus buntil, lauk berisi kelapa parut dan teri yang dikukus lalu disiram kuah santan.

Di Sumatra, talas sering digoreng tipis jadi keripik atau dijadikan campuran sayur berkuah. Di Papua, talas menempati posisi berbeda: bukan camilan, tapi makanan pokok. Ia dibakar bersama batu panas dalam tradisi masak bersama, atau dikukus sederhana untuk menemani lauk lain.

Bentuk olahan modernnya juga banyak. Tepung talas dipakai untuk bolu, brownies, dan roti. Daging talas ungu jadi isian roti dan minuman. Keripik talas dari berbagai varietas kini dijual dalam kemasan, meski rasanya jarang sebaik yang baru digoreng di rumah.

Kenapa Talas Bikin Gatal dan Cara Mengakalinya

Rasa gatal di tangan atau tenggorokan setelah menyentuh dan memakan talas bukan mitos. Penyebabnya kristal kalsium oksalat yang ada di jaringan umbi dan batang. Semakin mentah dan semakin besar kristalnya, semakin terasa gatalnya.

Kabar baiknya, masalah ini mudah diatasi:

  • Kupas talas dengan sarung tangan, atau olesi tangan dengan minyak sebelum mengupas.
  • Rendam potongan talas di air bersih beberapa saat sebelum dimasak.
  • Masak sampai benar-benar matang. Talas setengah matang tetap gatal.
  • Tambahkan sedikit asam, seperti air jeruk nipis atau asam jawa, saat merebus.
  • Untuk daun dan batang, rebus dulu lalu buang airnya sebelum diolah lebih lanjut.

Jangan sekali-kali makan talas mentah atau hanya dipanaskan sebentar. Kalau tenggorokan terasa gatal setelah makan, minum air hangat dan hentikan dulu konsumsinya.

Menanam Talas di Pekarangan Sempit

Talas bisa ditanam di lahan kecil, bahkan di pot besar. Kuncinya ada di air dan bahan organik. Tanaman ini suka tanah gembur yang selalu lembap, tapi tidak tahan genangan yang mengendap.

Mulai dari anakan sehat atau potongan umbi bermata tunas. Tanam dengan kedalaman secukupnya, siram rutin, dan beri mulsa dari daun kering untuk menjaga kelembapan. Talas toleran terhadap naungan, jadi bisa ditaruh di bawah pohon atau di sisi rumah yang tidak kena matahari penuh. Di tempat yang terlalu terbuka dan kering, daunnya justru cepat menguning.

Panen dilakukan saat daun mulai menguning dan rebah. Gali dengan hati-hati supaya umbi tidak terluka, karena luka kecil membuat umbi cepat busuk saat disimpan. Talas sebaiknya diolah beberapa hari setelah dipanen, bukan disimpan lama.

Pada akhirnya, talas bukan tanaman yang menuntut perawatan rumit. Ia lebih sering gagal karena dibiarkan becek, diserang tikus, atau dipanen terlalu dini. Perbaiki tiga hal itu, dan satu rumpun talas bisa memberi hasil berkali-kali untuk dapur rumah.

Iklan

Artikel Lainnya