Jelajahi Dunia Tanaman
Iklan
Tanaman Asia

Menanam Wasabi di Dataran Tinggi Bukan Proyek Setahun

Wasabi hanya mau tumbuh di air mengalir yang dingin dan stabil, dengan naungan hampir sepanjang hari. Di dataran tinggi Indonesia syarat itu bisa dipenuhi, tapi butuh dua tahun sebelum akarnya layak dipanen. Kenali dulu apa yang membuat tanaman ini sering gagal di tangan pemula.

Menanam Wasabi di Dataran Tinggi Bukan Proyek Setahun

Banyak orang membayangkan wasabi cuma soal suhu dingin. Padahal tanaman ini jauh lebih rewel soal air daripada soal udara. Di Jepang, wasabi dibudidayakan di lereng sungai gunung dengan air yang terus mengalir, jernih, dan stabil dinginnya sepanjang tahun. Kalau Anda tinggal di daerah seperti Dieng, Kopeng, Lembang, Berastagi, atau Toraja, peluang itu terbuka. Tapi bukan berarti mudah.

Tulisan ini bukan janji panen cepat. Ini penjelasan apa yang sebenarnya dituntut wasabi sebelum Anda mengeluarkan uang untuk bibit dan membangun bedengan.

Wasabi Menolak Diperlakukan Seperti Sayuran Lain

Wasabi (Eutrema japonicum) adalah tanaman keluarga kubis-kubisan yang tumbuh liar di tepi aliran air pegunungan. Akar dan rimpangnya menyimpan minyak pedas yang jadi alasan tanaman ini mahal. Yang perlu Anda pahami sejak awal: wasabi tidak sekadar butuh tanah gembur dan pupuk kandang.

Iklan

Ada dua model budidaya yang dikenal. Pertama, model sawa, yaitu ditanam di bedengan berkerikil yang dialiri air terus-menerus. Kedua, model hatake, ditanam di tanah seperti sayuran biasa, tetapi hasil rimpangnya umumnya lebih kecil dan rasanya kurang tajam. Untuk pemula di Indonesia, model sawa biasanya lebih aman karena lebih mudah mengontrol suhu air dan drainase.

Kalau Anda tidak punya akses ke sumber air mengalir yang dingin, sebaiknya jangan memaksakan diri. Wasabi di pot dengan siraman air keran biasanya berakhir dengan akar membusuk dalam beberapa bulan.

Syarat Lokasi di Dataran Tinggi Indonesia

Ketinggian minimal yang sering disebut untuk wasabi adalah sekitar seribu meter di atas permukaan laut, dan semakin tinggi biasanya semakin baik. Yang lebih penting dari angka ketinggian adalah suhu harian. Wasabi tumbuh nyaman di kisaran sejuk, sekitar belasan derajat Celsius, dan mulai stres ketika suhu sering menembus angka dua puluhan.

  • Air. Harus mengalir, bukan menggenang. Debitnya tidak perlu deras, yang penting terus bergerak dan tetap dingin. Air dari mata air pegunungan atau aliran irigasi atas biasanya paling cocok.
  • Naungan. Wasabi butuh cahaya, tapi bukan terik langsung. Di habitat aslinya ia hidup di bawah kanopi pepohonan. Naungan paranet atau pohon peneduh sepanjang hari adalah pilihan paling aman.
  • Kelembapan udara. Udara dataran tinggi yang lembap sangat menguntungkan. Daerah yang terlalu kering dan berangin kencang membuat daun mudah kering di tepinya.
  • Kemiringan lahan. Sedikit miring membantu air mengalir dan mencegah genangan di sekitar akar.

Menyiapkan Bedengan dan Media Tanam

Untuk model sawa, bedengan dibuat dari lapisan kerikil sungai berbagai ukuran, dari yang kasar di bawah sampai yang lebih halus di atas. Di atas kerikil ditambah lapisan media organik yang menyimpan kelembapan tapi tidak memadat. Campuran pasir kasar, kompos matang, dan bahan organik halus biasanya bekerja baik.

Air dialirkan masuk dari ujung atas bedengan dan keluar di ujung bawah. Kuncinya, permukaan air tidak menutupi seluruh media. Bagian atas kerikil harus tetap terlihat dan hanya bagian bawah yang terendam tipis. Akar wasabi menyukai lembap, bukan terendam.

Hindari media yang mengandung banyak tanah liat. Tanah liat memadat, aliran air terhambat, dan akar kehilangan oksigen. Kalau di daerah Anda airnya mengandung banyak lumpur, buat kolam pengendap kecil sebelum air masuk ke bedengan.

Mulai dari Anakan, Bukan dari Biji

Wasabi bisa diperbanyak dari biji, tapi caranya lambat, tingkat keberhasilannya rendah, dan tanaman dari biji sering tidak seragam. Cara yang lebih praktis adalah memakai anakan atau tunas samping yang tumbuh dari pangkal tanaman induk.

Pisahkan anakan yang sudah punya beberapa akar sendiri, lalu tanam di media yang sudah disiapkan. Jangan menanam terlalu dalam. Pangkal batang harus tetap berada sedikit di atas permukaan media. Setelah tanam, jaga aliran air tetap berjalan dan hindari memindahkan tanaman lagi dalam waktu lama, karena wasabi tidak suka akarnya terusik.

Kalau Anda membeli bibit dari luar daerah, pastikan pengirimannya cepat dan akarnya tetap lembap. Bibit yang terlalu lama dalam paket biasanya sulit pulih.

Perawatan Harian yang Menentukan

Rutinitas terpenting adalah memeriksa aliran air. Pipa atau saluran yang tersumbat daun kering bisa membuat sebagian bedengan kering, sementara bagian lain justru tergenang. Keduanya sama-sama merugikan.

Suhu air juga perlu dijaga. Di dataran tinggi, air pegunungan umumnya sudah cukup dingin. Kalau bedengan terkena sinar matahari langsung, air di saluran bisa menghangat dan itu mempercepat munculnya penyakit akar. Menutup saluran dengan peneduh sederhana sering membantu.

Soal pemupukan, wasabi tidak butuh banyak. Pemberian bahan organik matang dalam jumlah kecil tapi rutin lebih baik daripada sekali banyak. Pupuk nitrogen berlebih membuat daun subur tapi rimpang kurus.

Hama yang paling sering muncul adalah siput dan bekicot, terutama di bedengan yang lembap. Kumpulkan manual setiap pagi, itu cara paling aman. Selain itu awasi ulat yang memakan daun dan gejala busuk akar bila drainase mulai bermasalah.

Panen dan Realita Ekonominya

Dari anakan sampai rimpang siap panen, waktu yang dibutuhkan biasanya sekitar satu setengah sampai dua tahun. Itu sebabnya wasabi disebut tanaman bersabar. Daunnya bisa dipanen lebih awal untuk kebutuhan dapur, tapi rimpang yang punya nilai jual tinggi butuh waktu panjang.

Panen dilakukan dengan mencabut tanaman beserta akarnya, lalu memisahkan rimpang dari daun dan akar halus. Rimpang segar cepat kehilangan aroma pedasnya, jadi jangan menumpuknya terlalu lama sebelum dijual. Untuk pasar restoran, kualitas dan kesegaran lebih menentukan harga daripada ukuran semata.

Pasar wasabi di Indonesia masih terbatas, terutama restoran Jepang dan pembeli khusus. Sebelum menanam dalam jumlah besar, ada baiknya Anda mencari dulu siapa yang mau membeli. Menanam tanpa pembeli hanya akan menghasilkan rimpang yang membusuk di gudang.

Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Kesalahan terbesar pemula adalah menanam wasabi di tempat panas lalu berharap tanaman beradaptasi. Wasabi tidak beradaptasi dengan panas, ia hanya bertahan beberapa waktu sebelum mati. Kesalahan kedua adalah menggenangi bedengan karena mengira tanaman air berarti tanaman yang suka terendam. Padahal yang dibutuhkan adalah air yang mengalir, bukan air yang diam.

Kesalahan ketiga adalah tidak sabar. Banyak orang menambahkan pupuk berkali-kali karena tanaman terlihat lambat tumbuh, lalu akarnya rusak karena kelebihan hara. Wasabi memang tumbuh lambat. Itu sifatnya, bukan tanda kekurangan pupuk.

Kalau Anda punya lahan dataran tinggi, sumber air mengalir yang dingin, dan kemauan menunggu dua tahun, wasabi bisa jadi tanaman yang menarik. Kalau salah satu syarat itu tidak ada, lebih baik menanam sesuatu yang lain daripada memaksa.

Iklan

Artikel Lainnya